RINGKASAN
- Industri jasa AS berkontrasi akibat meningkatnya pengangguran dan rendahnya keyakinan konsumen.
- Prospek tenaga kerja Jepang memburuk karena jatuhnya permintaan ekspor.
- Ekonomi Cina akan tumbuh 10% di kuartal akhir tahun ini terkait paket stimulus pemerintah.
- Jatuhnya ekspor Indonesia mengindikasikan berlanjutnya perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Pengangguran AS Tertinggi 25 Tahun
Tingkat pengangguran naik di bulan Maret ke level tertinggi sejak 1983, sinyal tambahan bahwa
pemulihan belanja konsumen akan berlangsung lambat. Tingkat pengangguran meningkat ke 8,5%, sesuai perkiraan, dari 8,1% pada Februari. Pengusaha memangkas 663.000 tenaga kerja menjadikan total pengurangan pegawai sejak resesi 5,1 juta, penurunan terbesar untuk masa sesudah perang. Hilangnya pekerjaan dan penurunan gaji berarti janji Presiden Barrack Obama untuk menciptakan (menyelamatkan) 3,5 juta pekerjaan melalui pemotongan pajak dan belanja pemerintah mungkin akan kekurangan tenaga untuk memulihkan perekonomian terbesar dunia ini. Pimpinan bank sentral telah memperkirakan pengangguran dapat mencapai 10% dalam skenario terburuknya. “Pasar tenaga kerja memburuk,” kata Conrad DeQuardos, senior ekonom RDQ Economics LLC di New York. “Suramnya pasar tenaga kerja berarti lemahnya belanja konsumen sepanjang tahun 2009.” Sementara itu, industri jasa AS di luar perkiraan berkontrasi pada bulan Maret dengan laju yang lebih cepat karena pengangguran meningkat dan keyakinan konsumen berada pada rekor terendah. Indeks ISM bisnis jasa, yang menguasai hampir 90% perekonomian, jatuh ke 40.8, level terendah tahun ini, dari 41.6 bulan lalu. Hasil di bawah 50 menunjukkan terjadinya kontraksi. “Fundamental ekonomi masih sangat lemah,” kata Lindsey Piegza, analis ekonomi FTN Financial di New York. “Hilangnya pekerjaan menambah tekanan secara signifikan pada sektor jasa. Jika kita terus melihat penurunan memasuki kuartal kedua, ini akan berarti tidak ada dukungan untuk perbaikan data makroekonomi yang kita lihat baru-baru ini.” Di lain pihak, pimpinan Federal Reserve, Ben Bernanke, mengungkapkan pada hari Jumat bahwa Fed akan menggunakan semua peralatan yang dimilikinya untuk menstabilkan pasar dan mendukung pemulihan ekonomi. Bernanke melihat potensi tumbuhnya ekonomi secara bertahap, namun tidak mengatakan kapan hal tersebut terjadi.
Tankan Menunjukkan Lebih Banyak Pengangguran di Jepang
Survei Tankan Bank of Japan minggu lalu menunjukkan anjloknya permintaan telah membuat
perusahaan gerah dengan terlalu banyak karyawan, ini mengisyaratkan lebih banyak lagi orang yang akan kehilangan pekerjaan. Naiknya pengangguran mengancam pengeluaran konsumen, bagian terkuat dari ekonomi yang menyusut 12.1% di triwulan empat. “Kita sedang bergerak ke dalam krisis domestik,” ungkap Martin Schulz, ekonom senior pada Lembaga Riset Fujitsu di Tokyo. “Ini diawali dengan ekspor tetapi infeksi telah menyebar. Kita akan melihat dampak lanjutan dari naiknya angka pengangguran.” Indeks kuartal Tankan atas penyedia tenaga kerja di sejumlah perusahaan terbesar Jepang naik ke level 20, tertinggi sejak Maret 2003. Angka positif mengindikasi kelebihan pekerja. Pengangguran merangkak naik ke level tinggi tiga-tahun dari 4.4% di bulan Februari dan ekonom memprediksi 5.5% di kuartal pertama 2010.
Pertumbuhan GDP Cina Akan Meningkat 10% Di Akhir Tahun
Cina akan tumbuh 10% di kuartal akhir tahun ini terkait paket stimulus pemerintah senilai 4 trilyun yuan ($585 milyar) telah memberi pengaruh, menurut Nomura Holdings Inc.. “Booming investasi yang disebabkan oleh paket stimulus pemerintah dan rendahnya pertumbuhan triwulan empat 2008 akan mendorong kenaikan pertumbuhan ke kisaran 10%” di kuartal empat 2009, menurut Sun Mingchun, ekonom Nomura di Hong Kong. Ekonomi tumbuh 6.8% di
kuartal empat 2008. Sementara data Purchasing Manager Index China naik diatas 50 di bulan Maret, kali pertama dalam enam bulan terakhir, ini menandakan bahwa industri manufaktur negara tengah berkembang. PMI naik ke level 52.4 dari 49.0 di bulan Februari. Presiden Hu Jintao mengatakan sebelum berangkat menghadiri Group 20 (G20) di London, bahwa program pengeluarannya telah “mulai memberikan efek.”
Ekspor Indonesia TerusMerosot
Ekspor berlanjut jatuh, mensinyalkan akan ada penurunan lagi pada perkiraan pertumbuhan, menurut Badan Pusat Statistik. Ekspor di bulan Februari menyusut 32.9% dari setahun lalu, setelah merosot 1% dari Januari, seiring krisis ekonomi global memangkas permintaan dan menekan harga komoditas utama, menurut kepala BPS Rusman Heriawan dalam konferensi persnya. “Jika ekspor terus merosot, pertumbuhan ekonomi akan menghadapi ancaman penurunan yang lebih besar,” katanya. Periode Januari dan Februari, ekspor sebesar AS$14.2 milyar, merosot 34.5% dari periode yang sama tahun 2008, menurut data BPS. Seiring dampak kemerosotan global memburuk, bank sentral kembali merevisi turun prediksi pertumbuhan ekonominya untuk 2009 menjadi 3 s/d 4 persen, terkait ekspor, pendapatan ekspor dan investasi yang terus terpuruk. “Paket stimulus pemerintah harus dilaksanakan segera untuk menstimulus ekonomi. Pemerintah juga harus cepat mengalihkan sumber pertumbuhan dari ekspor ke permintaan domestik,” tutur Rusman. Di lain pihak, Bank Indonesia kembali memangkas suku bunganya 25 bps menjadi 7.5%.
Sterling Melonjak KarenaData PMI Jasa
Sterling menguat terhadap mata uang utama lain hari Jumat, menyentuh tertinggi 7 minggu terhadap dolar, setelah data sektor jasa dirilis lebih tinggi dari perkiraan. Indeks aktivitas PMI jasa CIPS/Markit naik ke 45,5 bulan Maret dari 43,2, hasil tertinggi sejak September dan mengalahkan perkiraan ekonom 43,5. “PMI UK telah naik cukup tajam dan kami melihat reli sterling karena hal itu,” kata Naeem Wahid, analis mata uang Treasury Bank of Scotland. Dia menambahkan bahwa kenaikan data PMI bersamaan dengan membaiknya data lain di seluruh dunia, turut membantu sentimen menuju aset lebih beresiko.
Harga Konsumen Swiss Bulan Maret Turun Terendah Sejak 1959
Harga konsumen Swis jatuh terendah dalam 5 dekade pada bulan Maret, meningkatkan resiko deflasi. Harga turun 0,4% dari tahun lalu, dipimpin oleh anjloknya biaya energi. Ini penurunan terbesar sejak Desember 1959. Dengan negara menghadapi resesi terburuk sejak 1975, bank sentral memprediksi inflasi akan negatif tahun ini dan mendekati nol untuk 2 tahun ke depan. Ursina Kubli, ekonom Bank Sarasin di Zurich, mengungkapkan “Kami tahu inflasi akan menyentuh teritori negatif, tapi kedalaman dan kecepatannya sangat mengejutkan.”
Yen Jatuh Setelah G-20 Janjikan $1 Triliun
Yen melemah di atas 100 per dolar untuk pertama kali sejak 4 Nov setelah G-20 sepakat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dunia sehingga menurunkan permintaan mata uang ini sebagai aset pengaman. Negara anggota G-20 menjanjikan $1 triliun, meningkatkan 3 kali lipat dana simpanan IMF hingga $750 milyar. “Pasar melihat bahwa uang yang tersedia untuk IMF akan cukup untuk menghindarkan perkembangan yang lebih buruk di pasar negara berkembang,” kata Henrik Gullberg, strategis mata uang Deutsche Bank AG di London. “Yen dapat jatuh ke 110 per dolar dalam 2 bulan mendatang.”
SOURCE : MONEX NEWS
pemulihan belanja konsumen akan berlangsung lambat. Tingkat pengangguran meningkat ke 8,5%, sesuai perkiraan, dari 8,1% pada Februari. Pengusaha memangkas 663.000 tenaga kerja menjadikan total pengurangan pegawai sejak resesi 5,1 juta, penurunan terbesar untuk masa sesudah perang. Hilangnya pekerjaan dan penurunan gaji berarti janji Presiden Barrack Obama untuk menciptakan (menyelamatkan) 3,5 juta pekerjaan melalui pemotongan pajak dan belanja pemerintah mungkin akan kekurangan tenaga untuk memulihkan perekonomian terbesar dunia ini. Pimpinan bank sentral telah memperkirakan pengangguran dapat mencapai 10% dalam skenario terburuknya. “Pasar tenaga kerja memburuk,” kata Conrad DeQuardos, senior ekonom RDQ Economics LLC di New York. “Suramnya pasar tenaga kerja berarti lemahnya belanja konsumen sepanjang tahun 2009.” Sementara itu, industri jasa AS di luar perkiraan berkontrasi pada bulan Maret dengan laju yang lebih cepat karena pengangguran meningkat dan keyakinan konsumen berada pada rekor terendah. Indeks ISM bisnis jasa, yang menguasai hampir 90% perekonomian, jatuh ke 40.8, level terendah tahun ini, dari 41.6 bulan lalu. Hasil di bawah 50 menunjukkan terjadinya kontraksi. “Fundamental ekonomi masih sangat lemah,” kata Lindsey Piegza, analis ekonomi FTN Financial di New York. “Hilangnya pekerjaan menambah tekanan secara signifikan pada sektor jasa. Jika kita terus melihat penurunan memasuki kuartal kedua, ini akan berarti tidak ada dukungan untuk perbaikan data makroekonomi yang kita lihat baru-baru ini.” Di lain pihak, pimpinan Federal Reserve, Ben Bernanke, mengungkapkan pada hari Jumat bahwa Fed akan menggunakan semua peralatan yang dimilikinya untuk menstabilkan pasar dan mendukung pemulihan ekonomi. Bernanke melihat potensi tumbuhnya ekonomi secara bertahap, namun tidak mengatakan kapan hal tersebut terjadi.
Tankan Menunjukkan Lebih Banyak Pengangguran di Jepang
Survei Tankan Bank of Japan minggu lalu menunjukkan anjloknya permintaan telah membuat
perusahaan gerah dengan terlalu banyak karyawan, ini mengisyaratkan lebih banyak lagi orang yang akan kehilangan pekerjaan. Naiknya pengangguran mengancam pengeluaran konsumen, bagian terkuat dari ekonomi yang menyusut 12.1% di triwulan empat. “Kita sedang bergerak ke dalam krisis domestik,” ungkap Martin Schulz, ekonom senior pada Lembaga Riset Fujitsu di Tokyo. “Ini diawali dengan ekspor tetapi infeksi telah menyebar. Kita akan melihat dampak lanjutan dari naiknya angka pengangguran.” Indeks kuartal Tankan atas penyedia tenaga kerja di sejumlah perusahaan terbesar Jepang naik ke level 20, tertinggi sejak Maret 2003. Angka positif mengindikasi kelebihan pekerja. Pengangguran merangkak naik ke level tinggi tiga-tahun dari 4.4% di bulan Februari dan ekonom memprediksi 5.5% di kuartal pertama 2010.
Pertumbuhan GDP Cina Akan Meningkat 10% Di Akhir Tahun
Cina akan tumbuh 10% di kuartal akhir tahun ini terkait paket stimulus pemerintah senilai 4 trilyun yuan ($585 milyar) telah memberi pengaruh, menurut Nomura Holdings Inc.. “Booming investasi yang disebabkan oleh paket stimulus pemerintah dan rendahnya pertumbuhan triwulan empat 2008 akan mendorong kenaikan pertumbuhan ke kisaran 10%” di kuartal empat 2009, menurut Sun Mingchun, ekonom Nomura di Hong Kong. Ekonomi tumbuh 6.8% di
kuartal empat 2008. Sementara data Purchasing Manager Index China naik diatas 50 di bulan Maret, kali pertama dalam enam bulan terakhir, ini menandakan bahwa industri manufaktur negara tengah berkembang. PMI naik ke level 52.4 dari 49.0 di bulan Februari. Presiden Hu Jintao mengatakan sebelum berangkat menghadiri Group 20 (G20) di London, bahwa program pengeluarannya telah “mulai memberikan efek.”
Ekspor Indonesia TerusMerosot
Ekspor berlanjut jatuh, mensinyalkan akan ada penurunan lagi pada perkiraan pertumbuhan, menurut Badan Pusat Statistik. Ekspor di bulan Februari menyusut 32.9% dari setahun lalu, setelah merosot 1% dari Januari, seiring krisis ekonomi global memangkas permintaan dan menekan harga komoditas utama, menurut kepala BPS Rusman Heriawan dalam konferensi persnya. “Jika ekspor terus merosot, pertumbuhan ekonomi akan menghadapi ancaman penurunan yang lebih besar,” katanya. Periode Januari dan Februari, ekspor sebesar AS$14.2 milyar, merosot 34.5% dari periode yang sama tahun 2008, menurut data BPS. Seiring dampak kemerosotan global memburuk, bank sentral kembali merevisi turun prediksi pertumbuhan ekonominya untuk 2009 menjadi 3 s/d 4 persen, terkait ekspor, pendapatan ekspor dan investasi yang terus terpuruk. “Paket stimulus pemerintah harus dilaksanakan segera untuk menstimulus ekonomi. Pemerintah juga harus cepat mengalihkan sumber pertumbuhan dari ekspor ke permintaan domestik,” tutur Rusman. Di lain pihak, Bank Indonesia kembali memangkas suku bunganya 25 bps menjadi 7.5%.
Sterling Melonjak KarenaData PMI Jasa
Sterling menguat terhadap mata uang utama lain hari Jumat, menyentuh tertinggi 7 minggu terhadap dolar, setelah data sektor jasa dirilis lebih tinggi dari perkiraan. Indeks aktivitas PMI jasa CIPS/Markit naik ke 45,5 bulan Maret dari 43,2, hasil tertinggi sejak September dan mengalahkan perkiraan ekonom 43,5. “PMI UK telah naik cukup tajam dan kami melihat reli sterling karena hal itu,” kata Naeem Wahid, analis mata uang Treasury Bank of Scotland. Dia menambahkan bahwa kenaikan data PMI bersamaan dengan membaiknya data lain di seluruh dunia, turut membantu sentimen menuju aset lebih beresiko.
Harga Konsumen Swiss Bulan Maret Turun Terendah Sejak 1959
Harga konsumen Swis jatuh terendah dalam 5 dekade pada bulan Maret, meningkatkan resiko deflasi. Harga turun 0,4% dari tahun lalu, dipimpin oleh anjloknya biaya energi. Ini penurunan terbesar sejak Desember 1959. Dengan negara menghadapi resesi terburuk sejak 1975, bank sentral memprediksi inflasi akan negatif tahun ini dan mendekati nol untuk 2 tahun ke depan. Ursina Kubli, ekonom Bank Sarasin di Zurich, mengungkapkan “Kami tahu inflasi akan menyentuh teritori negatif, tapi kedalaman dan kecepatannya sangat mengejutkan.”
Yen Jatuh Setelah G-20 Janjikan $1 Triliun
Yen melemah di atas 100 per dolar untuk pertama kali sejak 4 Nov setelah G-20 sepakat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dunia sehingga menurunkan permintaan mata uang ini sebagai aset pengaman. Negara anggota G-20 menjanjikan $1 triliun, meningkatkan 3 kali lipat dana simpanan IMF hingga $750 milyar. “Pasar melihat bahwa uang yang tersedia untuk IMF akan cukup untuk menghindarkan perkembangan yang lebih buruk di pasar negara berkembang,” kata Henrik Gullberg, strategis mata uang Deutsche Bank AG di London. “Yen dapat jatuh ke 110 per dolar dalam 2 bulan mendatang.”
SOURCE : MONEX NEWS


0 komentar:
Post a Comment